Strategi Pengelompokan Peserta Didik: Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas
Pembelajaran berdiferensiasi mulai populer diterapkan dalam proses pembelajaran dalam kurikulum merdeka. Konsep ini membawakan konsep baru dalam dunia pendidikan. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat ditemukan di dalam video pembelajaran yang dibuat oleh Pak Mustar dengan judul "Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional pada KBM Matematika SMP”.
Dari video tersebut penulis dan tim menemukan konsep baru dimana di mana pembelajaran dirancang melalui pengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuannya. Pembelajaran terdahulu menggunakan pengelompokan yang dilakukan secara acak atau bahkan tidak ada pengaturan tempat duduk dengan memasangkan peserta didik yang sudah mahir dengan peserta didik yang belum memahami pembelajaran, sementara di dalam video peserta didik dikelompokkan berdasarkan level kemampuannya.
Konsep lain yang kami pelajari adalah mengenai pendekatan pembelajaran yang berbeda-beda dalam satu kelas. Sedangkan dahulu hanya menggunakan satu pendekatan untuk semua peserta didik dalam satu kelas tanpa mengukur level kesiapan masing-masing peserta didik.
Pak Mustar mengaplikasikan pre-test di awal pembelajaran untuk mengetes prior knowledge dan mengetahui level kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran. Level peserta didik dibagi menjadi tiga yaitu advance, intermediate, dan beginner. Beliau menerapkan diferensiasi konten dengan memberikan materi/bahan ajar yang berbeda sesuai dengan level peserta didik. Bimbingan yang diberikan oleh Pak Mustar berbeda untuk setiap kelompok menunjukkan adanya penerapan diferensiasi proses pembelajaran. Kelompok beginner mendapatkan bimbingan lebih banyak hingga bimbingan perlahan-lahan dikurangi. Di akhir proses pembelajaran, diferensiasi produk/asesmen juga diterapkan oleh Pak Mustar. Dalam hal ini beliau memberikan tugas kelompok yang berbeda sesuai dengan level kemampuan peserta didik tadi.
Tantangan yang ditemukan penulis adalah ketika Pak Mustar berhasil menerapkan strategi pengelompokan peserta didik menjadi tiga kelompok dengan tiga pendekatan, tiga konten, tiga kegiatan, dan tiga asesmen dalam satu waktu pembelajaran. Mengajar tiga kelompok dengan level kemampuan dan pengetahuan yang berbeda menjadi tantangan bagi kami selaku calon guru. Dibutuhkan manajemen kelas yang terencana dan jelas untuk menerapkan strategi tersebut agar pembelajaran berjalan dengan baik.
Selain itu, pengelompokan kelas menjadi tiga tingkatan yang berbeda memungkinkan beberapa peserta didik merasa lebih unggul atau sebaliknya. Sehingga selama proses pembelajaran diperlukan penguatan karakter, motivasi, serta tujuan yang jelas kepada peserta didik. Hal ini bukan berarti tidak dapat kami lakukan, namun ini merupakan hal yang baru dan menantang bagi kami. Sangat penting untuk meningkatkan kemampuan calon guru dalam hal membimbing, mengatur kelas, dan menyampaikan materi dengan baik kepada masing-masing peserta didik.
Perubahan yang akan penulis dan tim lakukan jika menjadi guru tersebut adalah mengubah media ajar. Di tahun 2024 ini pengetahuan dan akses mengenai teknologi digital sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga alangkah baiknya kita sebagai guru juga memanfaatkan media digital dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Penulis dan tim akan mengubah media ajar yang awalnya berupa lembaran soal dan papan tulis menjadi menggunakan media digital berupa penggunaan Quizizz untuk penyajian dan pengerjaan soal, serta penggunaan alat peraga agar memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang diberikan. Jika banyak peserta didik yang tidak membawa handphone, pengaplikasian Quizizz dapat dilakukan dengan mengarahkan proyektor ke papan tulis lalu peserta didik maju ke depan menunjuk pilihan jawaban yang benar sesuai proyeksi di papan tulis.
Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, seperti yang dilakukan oleh Pak Mustar, memberikan pendekatan baru yang efektif dalam mengakomodasi perbedaan kemampuan peserta didik. Dengan pengelompokan berdasarkan level kemampuan, penggunaan pre-test untuk mengetahui prior knowledge, serta penerapan diferensiasi dalam konten, proses, dan asesmen, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif.
Meskipun terdapat tantangan dalam menerapkan ketiga aspek diferensiasi secara bersamaan, calon guru diharapkan dapat merencanakan dan beradaptasi dengan baik. Selain itu, pemanfaatan media digital, seperti Quizizz, dapat meningkatkan interaktivitas pembelajaran dan memfasilitasi pemahaman peserta didik. Kesimpulannya, pendekatan ini berpotensi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi setiap peserta didik.
1. Leonita Dian Nugraha
2. Nurul Istiqomah
3. Ari Afriyanto
4. Ilda Rilnanda
Comments
Post a Comment